
Jalur belanja dan jajanan kaki lima utama Yogyakarta, ramai dari sore hingga malam.
Malioboro adalah jalan yang membentang kurang lebih dua setengah kilometer ke utara dari Kraton menuju Stasiun Tugu, mengikuti garis kosmologi Jawa yang menghubungkan istana dengan Gunung Merapi. Sumbu itu ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 2023, jadi jalan tempat Anda menawar kaos ini secara teknis merupakan bagian dari daftar Warisan Dunia. Jalan ini menjadi tulang punggung komersial kota sejak pedagang Tionghoa membuka rumah toko di sepanjangnya sekitar tahun 1900, dan bagian selatan dulunya adalah Pecinan, dengan beberapa bangunan itu masih berdiri di balik papan nama modern.
Perubahan besar beberapa tahun terakhir adalah hilangnya pedagang kaki lima trotoar. Pada 2022 warung-warung yang memenuhi kedua trotoar dipindahkan ke dalam pasar tertutup Teras Malioboro 1 dan 2, dan trotoarnya direnovasi dengan bangku, tanaman, dan ruang untuk berjalan. Lalu lintas dikurangi dan parkir dipindahkan dari jalan.
Hasilnya menuai pendapat yang terbagi secara jujur. Berjalan di Malioboro jauh lebih nyaman dari sebelumnya, dan di malam hari, dengan penerangan, pengamen, dan delman, tempat ini memang asik. Tapi kesemrawutan yang membuatnya menarik sudah dimasukkan ke dua gedung, dan banyak pengunjung lama menganggap jalan ini kehilangan karakternya.
Makanan tetap menjadi alasan terkuat untuk datang. Setelah gelap, tikar lesehan digelar di trotoar dan Anda duduk di tanah menyantap gudeg, semur nangka manis khas Yogyakarta, dengan gorengan dan sate Jawa di sampingnya. Harga di tikar-tikar itu bisa ditawar dan, di beberapa warung, ditentukan seenaknya, jadi tanyakan sebelum memesan.
Cara ke sana
Malioboro membentang di tengah kota, jadi dari kebanyakan hotel di pusat kota cukup jalan kaki atau beberapa menit dengan Grab, taksi, atau becak. Bus Trans Jogja berhenti di sepanjang koridor, dan Stasiun Tugu ada di ujung utara, sehingga datang dengan kereta dari Jakarta, Bandung, atau Surabaya sangat mudah. Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) berjarak sekitar satu jam hingga satu setengah jam dengan mobil, atau via kereta bandara ke Tugu. Mobil tidak bisa memasuki area pedestrian dan parkir sudah dipindahkan dari Malioboro sendiri, jadi Anda akan diturunkan di dekatnya dan berjalan masuk. Dua gedung pasar Teras Malioboro, tempat pedagang trotoar sekarang berjualan, ada di sisi jalan utama.
Waktu terbaik
Sore menjelang malam. Panas mereda, warung-warung menyala, tikar lesehan digelar, dan pengamen mulai bermain, dan inilah versi Malioboro yang layak dilihat. Siang hari panas, terik, dan sebagian besar soal belanja. Akhir pekan dan hari libur nasional Indonesia sangat padat, dan pengaturan lalu lintas berubah di hari-hari itu, jadi tanyakan pengemudi Anda daripada menebak-nebak titik turun.
Perlu diketahui
Tawar harga, dan mulai jauh di bawah harga pembuka, yang untuk oleh-oleh sering kali beberapa kali lipat dari yang dibayar warga lokal. Sepakati tarif dengan pengemudi becak atau andong sebelum naik dan pegang kesepakatan itu, karena 'terserah' di awal pasti berubah menjadi perdebatan di akhir. Di tikar lesehan, tanyakan harga setiap hidangan sebelum memesan, bukan sesudahnya. Kebanyakan warung jujur, tapi ada beberapa yang tidak. Jaga tas Anda di keramaian malam. Kalau Anda ingin versi kehidupan jalanan Yogyakarta yang lebih lama dan acak-acakan, jalan satu blok ke barat ke gang-gang Sosrowijayan.
Ya. Berjalan dan melihat-lihat tidak dipungut biaya. Anda hanya membayar untuk apa yang Anda beli atau makan, dan untuk transportasi seperti becak atau delman, yang tarifnya harus disepakati di muka.
Pada 2022 warung-warung yang memenuhi kedua trotoar dipindahkan ke dua gedung pasar tertutup, Teras Malioboro 1 dan 2, di sisi jalan. Trotoar direnovasi menjadi jalur pejalan kaki dengan bangku. Pedagangnya tetap sama, hanya pindah ke dalam gedung.
Gudeg, semur nangka manis khas Yogyakarta, dimakan di malam hari di tikar lesehan tempat Anda duduk di trotoar. Gorengan dan sate Jawa dijual di sampingnya. Pastikan harga sebelum memesan.
Jalan ini ramai dan umumnya aman hingga larut malam, dengan keluarga dan warga lokal serta wisatawan. Kewaspadaan standar di keramaian berlaku: jaga tas di depan dan waspada terhadap pencopet di bagian tersempit.
Tidak sepenuhnya, tapi lalu lintas sudah jauh berkurang, parkir dipindahkan dari jalan, dan bagian panjangnya diserahkan untuk pejalan kaki, dengan pengaturan bebas kendaraan di waktu-waktu tertentu. Praktisnya Anda berjalan menyusuri jalur dan diturunkan di dekatnya.
Satu hingga dua jam cukup untuk berjalan dan melihat gedung-gedung pasar. Kebanyakan orang kembali di malam hari untuk makan daripada memperlakukannya sebagai satu kali kunjungan, karena jalanan ini berubah total setelah gelap.
Masukkan ke dalam rute keliling Indonesia, dan kami akan menghitung waktu tempuh serta biaya antar setiap titik.
Rencanakan perjalanan