
Kota tua kolonial Belanda di Jakarta, alun-alun berbatu yang dikelilingi museum dan sepeda sewaan.
Kota Tua adalah sisa dari Batavia, ibu kota dagang Belanda berbenteng yang ditata pada tahun 1600-an. Pusatnya adalah Taman Fatahillah, alun-alun luas berlapis batu yang dibingkai bekas Balai Kota, kini Museum Sejarah Jakarta, berdampingan dengan Museum Wayang serta Museum Seni Rupa dan Keramik. Bangunannya berat, berdaun jendela tertutup dan berproporsi Belanda, sebagian dipugar dengan cermat, sebagian lagi mengelupas dimakan lembap, dan tata jalan dari abad kedelapan belas masih terbaca ketika Anda menyusurinya.
Alun-alun dan jalan-jalan di sekitarnya dijadikan kawasan pejalan kaki lewat revitalisasi besar yang rampung pada Agustus 2022, yang menutup Jalan Lada dan Jalan Ketumbar di depan Stasiun Jakarta Kota dari lalu lintas dan menambahkan trotoar lebar, bangku serta jalur sepeda. Perubahannya nyata. Namun perubahan itu tidak sepenuhnya bertahan: para pengamat Indonesia terang-terangan menyebut kondisinya merosot kembali mendekati keadaan lama setelah tahun pertama, dan pada akhir pekan yang panas alun-alun ini bisa terasa lebih mirip pasar yang sesak daripada situs warisan budaya.
Keramaian itu justru sebagian besar intinya. Di sinilah warga Jakarta datang untuk berkumpul. Pedagang, pengamen, dan deretan sepeda ontel satu kecepatan yang dicat mencolok untuk disewa, lengkap dengan topi jerami bertepi lebar.
Cafe Batavia menempati bangunan sudut yang berasal dari tahun 1884 dan layak dimasuki demi interiornya saja, meski harga makanannya menyesuaikan suasananya. Dari alun-alun, gang-gang samping menurun ke kanal Kali Besar dan terus ke pelabuhan kapal layar tua di Sunda Kelapa.
Cara ke sana
Cara paling mudah menghindari jalan raya sama sekali. Naiklah kereta komuter KRL ke Stasiun Jakarta Kota, terminus bergaya art deco yang sendirinya layak dilihat, lalu berjalan lima menit ke Taman Fatahillah lewat jalan-jalan khusus pejalan kaki. Bus TransJakarta melayani halte Kota Tua di dekatnya lewat beberapa koridor. Grab atau Gojek juga bisa, tetapi lalu lintas Jakarta menuju kota tua ini lambat, terutama di akhir pekan, dan alun-alunnya sendiri tertutup bagi mobil sehingga Anda tetap akan diturunkan pada jarak berjalan kaki.
Waktu terbaik
Pagi hari kerja, tanpa banyak saingan. Alun-alun menjadi sangat ramai pada akhir pekan dan hari libur nasional, ketika dipenuhi wisatawan domestik, dan hampir tidak ada naungan di atas batu terbuka itu. Sore menjelang petang nyaman untuk cahaya dan suhu, tetapi ingat bahwa museum tutup jauh lebih awal daripada alun-alunnya, biasanya pertengahan siang, dan semuanya tutup pada hari Senin. Kalau Anda ingin sekaligus bangunannya dan suasananya, datanglah pagi untuk museum dan bertahanlah sampai alun-alun mulai penuh.
Perlu diketahui
Harga tiket masing-masing museum dikutip secara tidak konsisten dan tampaknya berubah-ubah, jadi perlakukan angka tunggal mana pun dengan hati-hati. Secara umum, orang Indonesia membayar sekitar IDR 5.000 sampai 15.000 per museum, dan pengunjung asing bisa membayar jauh lebih banyak di Museum Sejarah Jakarta. Sewa sepeda ontel berkisar sekitar IDR 20.000 sampai 30.000 per sepeda per jam, sudah termasuk topinya, dari kelompok penyewaan di depan Museum Sejarah dan ke arah Kali Besar. Bawalah uang tunai pecahan kecil untuk semuanya. Kewaspadaan biasa di alun-alun besar tetap berlaku: taruh tas di depan badan Anda dalam kepadatan, sepakati harga sebelum Anda menerima jasa atau foto, dan gunakan toilet di dalam museum, bukan toilet dadakan di luar. Sebagian Museum Sejarah Jakarta dilaporkan sedang dikerjakan meski tetap buka, jadi bersiaplah beberapa ruangan tertutup.
Alun-alunnya sendiri gratis dan terbuka, serta khusus pejalan kaki. Setiap museum menarik tiketnya sendiri, kira-kira IDR 5.000 sampai 15.000 untuk orang Indonesia dengan tarif lebih tinggi bagi orang asing di Museum Sejarah Jakarta. Sewa sepeda dihitung terpisah.
Museum Sejarah Jakarta, di dalam bekas Balai Kota, adalah yang utama dan memaparkan sejarah Batavia di dalam ruangan-ruangan kolonialnya sendiri, termasuk sel-sel di bawahnya. Museum Wayang, yang didedikasikan untuk seni pewayangan Indonesia, adalah perhentian kedua terbaik kalau Anda punya waktu.
Semuanya tutup pada hari Senin, dan sebagian besar tutup pada pertengahan siang, bukan malam. Datanglah pagi kalau museum adalah alasan Anda berkunjung.
Naik kereta komuter KRL ke Stasiun Jakarta Kota lalu berjalan kaki. Cara ini melewati kemacetan jalan sepenuhnya, stasiunnya sendiri karya arsitektur yang bagus, dan jalan kaki ke Taman Fatahillah sekitar lima menit lewat jalan khusus pejalan kaki.
Sekitar IDR 20.000 sampai 30.000 per sepeda per jam pada 2026, termasuk topi bertepi lebar. Penyewaan berkumpul di depan Museum Sejarah Jakarta dan di sepanjang jalan menuju Kali Besar. Sepakati durasi dan harganya sebelum Anda berangkat.
Masih. Tempat ini menempati bangunan tahun 1884 di sudut alun-alun dan buka sebagai restoran dan bar. Hidangan utamanya berkisar sekitar IDR 100.000 sampai 200.000, sehingga banyak orang masuk hanya untuk minum dan melihat interiornya, bukan untuk makan.
Masukkan ke dalam rute keliling Indonesia, dan kami akan menghitung waktu tempuh serta biaya antar setiap titik.
Rencanakan perjalanan