Asik Travel
Wisata Tersembunyi Indonesia: 10 Tempat yang Nyaris Tak Dijamah Turis

Wisata Tersembunyi Indonesia: 10 Tempat yang Nyaris Tak Dijamah Turis

Sepuluh tempat yang jarang dijangkau turis: Belitung, Labengki, Kepulauan Banggai dan Togean, Sumba, Moyo, Wae Rebo, Kelimutu.

Asik Travel EditorialOleh Asik Travel Editorial7/14/20269 menit baca

Istilah "hidden gem" ditempelkan pada setiap pantai di Bali yang pengunjungnya kurang dari seratus orang. Daftar ini beda. Ini sepuluh tempat yang tak pernah dijangkau kebanyakan pengunjung Indonesia, bukan karena tidak ramah, melainkan karena butuh penerbangan dan kapal atau jalan darat yang panjang, dan mesin pariwisata belum menemukannya. Pantai pasir putih yang lengang, pulau-pulau karst yang menyaingi Raja Ampat, danau kawah yang berubah warna, dan desa-desa yang tampak sama selama berabad-abad.

Kami menjalankan trip ke banyak tempat ini, jadi daftar ini bukan hasil comotan dari blog lain; inilah tempat yang benar-benar kami rekomendasikan kepada orang yang sudah puas dengan Bali dan menginginkan yang sesungguhnya. Kalau Anda ingin versi yang sedikit kurang terpencil lebih dulu, panduan kami tentang pulau yang lebih mudah untuk perjalanan pertama dan pulau-pulau di luar Bali membahas alternatifnya. Semua di bawah ini selangkah lebih jauh dari peta, diurutkan kira-kira dari barat ke timur melintasi Nusantara.

Kenapa tempat-tempat ini tetap sepi

Tidak ada yang benar-benar rahasia di sini. Semuanya tetap sepi karena alasan struktural: tidak ada penerbangan internasional langsung, penerbangan domestiknya hanya beberapa kali seminggu, dan kapal yang menutup perjalanan berlayar mengikuti jadwal warga, bukan wisatawan. Tambahkan jumlah kamar yang hanya ratusan, dan hitungannya sendiri membatasi berapa orang yang bisa berada di sana sekaligus.

Ini penting diketahui karena menjelaskan apa yang akan berubah dan apa yang tidak. Tempat yang sepi karena jarak akan tetap sepi. Tempat yang sepi hanya karena satu penerbangan yang belum ada tidak akan bertahan sepi: Labuan Bajo ada di daftar seperti ini sepuluh tahun lalu, sekarang punya bandara internasional. Kalau salah satu menarik minat Anda, saran jujurnya adalah pergi sebelum aksesnya membaik, bukan sesudah.

1. Belitung, lepas pantai Sumatra

Belitung adalah pulau kecil di laut antara Sumatra dan Kalimantan, dan tampilannya tidak mirip tempat lain di Indonesia: pantai putih bertabur batu granit raksasa yang licin sebesar rumah, di air yang begitu jernih hingga dasar laut terlihat dari perahu. Pulau ini melejit di dalam negeri sebagai latar novel dan film Laskar Pelangi, tetapi hampir tidak ada wisatawan mancanegara yang sampai ke sini. Pesisir granitnya telah menjadi UNESCO Global Geopark sejak April 2021, yang keenam di Indonesia. Anda bisa island hopping ke batu-batu kecil di lepas pantai, snorkeling di terumbu dangkal, dan memotret pantai berbatu di Tanjung Tinggi dan Tanjung Kelayang nyaris tanpa orang lain di bingkai foto. Penerbangan singkat dari Jakarta membawa Anda ke pulau yang terasa seperti rahasia.

2. Labengki dan Sombori, Sulawesi Tenggara

Kalau Raja Ampat ada di daftar Anda tetapi jarak tempuh atau harganya tidak, Labengki dan Sombori adalah jawaban yang nyaris tak dikenal siapa pun. Labirin pulau karst terjal di lepas pantai Sulawesi Tenggara ini menjulang langsung dari laguna toska, lengkap dengan kolam tersembunyi, kima raksasa, dan terumbu yang bisa disnorkel langsung dari perahu. Mereka yang sudah melihat keduanya diam-diam menyebutnya mini Raja Ampat, dan harganya hanya sepersekian. Dicapai lewat kapal dari kota Kendari, tempat ini masih benar-benar di luar jalur wisata, dan justru itulah alasan airnya dan pantainya sebegini murni. Panduan ke Labengki dan Sombori kami menunjukkan cara ke sana dan seperti apa perjalanan ke sana.

Pemandangan udara kampung nelayan berpanggung di antara pulau-pulau karst hijau di Sombori, Sulawesi
Sombori, dekat Labengki, Sulawesi. Foto via Wikimedia Commons (domain publik)

Yang satu ini kini punya situsnya sendiri, memuat tur Pulau Labengki dan penjelasan lebih dekat tentang pulau-pulaunya.

Aerial view of forested karst islands and shallow reef flats around Sombori

Entry two, as a trip

Rangkaian singkat Labengki dari Kendari

Tiga hari dua malam: penjemputan pukul 08.00, 40 menit ke Pelabuhan Tanasa, sekitar dua setengah jam dengan perahu kayu. Karst tenggelam yang sama seperti Raja Ampat, satu penerbangan domestik dari Makassar.

Lihat rutenyaMulai Rp 4.100.000 per orang

3. Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah

Jauh di laut sebelah timur daratan Sulawesi terhampar Kepulauan Banggai, gugusan pulau yang begitu jarang dikunjungi sampai punya ikan endemik, ikan kardinal Banggai, yang tak ditemukan liar di tempat lain mana pun di Bumi. Inilah Indonesia yang sesungguhnya tanpa jaring pengaman: kampung berpanggung, terumbu yang lengang, dan salah satu kolam air tawar terjernih di negeri ini di Danau Paisupok, tempat Anda berenang di air yang begitu bening hingga ikan seolah melayang di udara. Penyelam dan freediver datang demi dinding karang dan ikan kardinal endemik, semua orang lain datang demi kesunyian yang total. Perjalanan lewat kota Luwuk butuh usaha, dan panduan perjalanan Luwuk dan Banggai serta cara menuju Kepulauan Banggai kami memandu Anda menyusuri rutenya, dan kami menjalankan perjalanan di sini sebagai wisata Luwuk Banggai di situs Kepulauan Banggai kami sendiri.

4. Kepulauan Togean, Teluk Tomini

Di tengah Teluk Tomini yang tenang terletak Kepulauan Togean, persis tempat yang orang maksud saat berkata: Indonesia seperti dulu. Kampung berpanggung di atas perairan dangkal, danau berisi ubur-ubur tanpa sengat yang bisa Anda renangi, terumbu yang jarang diselami dengan ikan yang tak takut manusia, dan tak ada yang terburu-buru. Tidak ada ATM di kepulauan ini, dan kapal berangkat menurut cuaca alih-alih jadwal, jadi Anda menetap di sebuah island base dan membiarkan hari-hari mengalir. Perjalanan ke sana, penerbangan plus jalan darat panjang plus feri, butuh usaha sungguhan, dan usaha itulah alasan tempat ini tetap sesunyi ini. Panduan lengkap Kepulauan Togean membahas cara ke sana, dan rute Sulawesi Tengah menunjukkan cara menyambungnya dengan sisa kawasan.

5. Sumba, Nusa Tenggara Timur

Di selatan Flores terhampar Sumba, pulau besar, kering, dan liar yang terasa seperti negeri lain. Bukit-bukit sabana bergelombang lembut, sewarna singa di musim kemarau, pantai selancar sepi membentang berkilo-kilometer, kampung di perbukitan dengan rumah adat beratap jerami menjulang dan makam batu megalitik, serta budaya ksatria yang masih menggelar Pasola, festival adu lembing di atas kuda. Segelintir resor ternama telah dibuka di sini, tetapi pulaunya sendiri tetap didominasi pedesaan dan nyaris tanpa pengunjung. Datanglah demi kelengangannya, kuda-kudanya, tenun ikatnya, dan pantai seperti Weekuri dan Mandorak yang benar-benar bisa Anda nikmati sendirian. Ini salah satu tempat paling berkarakter di seluruh Nusantara, dan salah satu yang paling sedikit berubah.

Bukit sabana keemasan bergelombang lembut di bawah langit biru berarak awan di Wairinding, Sumba Timur
Bukit Wairinding, Sumba Timur. Foto: Djakartacaver / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Sumba menghargai pemandu yang mengenal desanya

Desa-desa adat Sumba adalah komunitas yang hidup, bukan museum terbuka, dan aturan sopan santun di seputar rumah adat, makam, dan upacara itu penting. Masuk bersama seseorang yang paham adatnya dan bisa mengurus sumbangan kecil yang lazim dengan tepat mengubah sekadar lewat menjadi sambutan yang tulus. Itulah beda antara memotret sebuah desa dan diundang masuk ke dalamnya.

6. Pulau Moyo, lepas pantai Sumbawa

Phinisi anchored in the turquoise water of Komodo National Park

Labuan Bajo, Flores

Komodo tanpa keramaian kapal harian

Tiga hari dua malam menginap di kapal keliling taman nasional, sehingga Anda sampai di titik-titik yang lebih sepi pada pagi dan sore hari.

Lihat rutenyaMulai Rp 6.000.000 per orang

Persis di lepas pantai utara Sumbawa terletak Moyo, pulau kecil berhutan yang sempat jadi berita saat Putri Diana berlibur di kamp mewahnya yang tersembunyi, lalu kembali dilupakan. Sebagian besarnya adalah cagar alam: air terjun yang mencurah ke kolam alami, hutan penuh rusa dan burung liar, serta terumbu di lepas pantai yang hanya kedatangan segelintir pengunjung. Anda bisa menginap di homestay sederhana atau satu eco-camp terkenalnya, dan apa pun pilihannya, Anda mendapatkan pulau yang terasa milik sendiri. Pulau ini menyatu secara alami dengan pulau yang lebih besar, Sumbawa, yang nyaris semua orang lewati begitu saja dalam perjalanan antara Lombok dan Flores. Panduan Pulau Moyo kami memuat detailnya.

7. Pesisir selancar dan pedalaman Sumbawa

Sumbawa sendiri layak mendapat barisnya sendiri di daftar ini. Pulau besar di timur Lombok ini kering, kasar, dan nyaris sepenuhnya dilewati wisatawan antara Bali dan Komodo, dan justru itulah daya tariknya. Pesisir selatan dan baratnya menyimpan ombak kelas atas yang jarang dijamah seperti Lakey Peak dan Scar Reef, sepi bahkan di puncak musim dibanding mana pun di Bali, sementara pedalamannya beralih ke sabana, kerbau, dan desa-desa adat. Tambahkan Gunung Tambora, yang letusannya pada 1815 adalah yang terbesar dalam sejarah tercatat dan kini bisa Anda daki. Peselancar mengenal sebagian pulau ini, nyaris semua orang lain hanya lewat. Panduan selancar Sumbawa kami membahas titik-titiknya dan kapan menaklukkannya.

8. Wae Rebo, desa di atas awan

Tinggi di pegunungan Flores, dicapai lewat jalan yang berakhir lalu dua hingga tiga jam mendaki menembus hutan, terletak Wae Rebo: desa mungil berisi tujuh rumah kerucut besar dalam cekungan punggung bukit hijau, kerap berada di atas awan. Ini salah satu tempat paling banyak difoto di Flores dan masih salah satu yang tersulit dijangkau, jadi mereka yang berhasil naik umumnya menginap semalam, tidur di rumah adat, berbagi santapan dengan keluarga tuan rumah, dan bangun ketika kabut menyingkap dari puncak. Pada 2012 desa ini menerima penghargaan pelestarian UNESCO atas cara komunitasnya menjaga arsitekturnya. Datanglah dengan hormat, dan tempat ini tak terlupakan. Panduan lengkap Wae Rebo menjelaskan pendakiannya, cara menginap, dan aturan sopan santunnya.

Rumah kerucut Mbaru Niang di desa Wae Rebo dikelilingi pegunungan hijau berkabut
Desa Wae Rebo, Flores. Foto: Fitri Mayeni / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

9. Kelimutu dan jalan lintas Flores

Kebanyakan orang yang terbang ke Flores langsung menuju kapal-kapal Komodo lalu terbang pulang, tanpa pernah tahu bahwa pulau di balik Labuan Bajo adalah salah satu perjalanan darat terhebat di Asia Tenggara. Jalan ke timur menanjak melewati sawah bertingkat, desa adat, dan sumber air panas hingga puncaknya di Kelimutu, gunung berapi bermahkota tiga danau kawah yang berdampingan dalam warna berbeda, toska, hijau zaitun, dan hitam, dan berubah dari tahun ke tahun karena sebab yang masih belum sepenuhnya dipahami. Orang mendaki dalam gelap untuk menyaksikan matahari terbit di atasnya. Nyaris tak ada yang menempuh rute ini, sayang sekali, karena spektakuler sepanjang jalan. Rute darat Flores kami menelusuri jalur dari Labuan Bajo sampai ke danau-danau itu.

Pemandangan udara danau kawah biru, hijau, dan gelap gunung Kelimutu di Flores
Danau kawah tiga warna Kelimutu, Flores. Foto: T. Casadevall / USGS (domain publik)

10. Dataran tinggi Sulawesi: Toraja dan Lembah Bada

Dua kawasan dataran tinggi di Sulawesi menyimpan sebagian budaya hidup tertua di negeri ini: Tana Toraja di Sulawesi Selatan, dan megalit Lembah Bada di dalam Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Di Tana Toraja, upacara pemakaman yang megah, makam di dinding tebing yang dijaga patung kayu tau-tau, dan rumah menjulang berbentuk perahu memikat segelintir pelancong yang mau naik ke sana, sementara Lembah Bada yang terpencil menyimpan arca megalitik kuno yang asal-usulnya belum bisa dijelaskan sepenuhnya. Keduanya hijau, bergunung, dan sangat kental adat, jauh sekali dari gambaran pantai yang terlintas di benak kebanyakan orang tentang Indonesia. Dicapai lewat darat dari pesisir, keduanya menghargai siapa pun yang rela menukar satu hari di pantai dengan sesuatu yang jauh lebih tua. Rute Sulawesi Tengah kami menyambungkan Lembah Bada dengan pesisir Togean.

Bagaimana dengan Kepulauan Banda dan Jawa?

Bagi yang ingin lebih jauh ke timur, Kepulauan Banda di Maluku adalah entri kesebelas yang jelas: benteng pala dari era Belanda, gunung api, dan dinding karang, dicapai lewat Ambon, dengan etape terakhir tercepat berupa pesawat kecil yang hanya terbang beberapa hari dalam seminggu. Kami tidak menjalankan trip ke sana, tetapi panduan Kepulauan Banda membahas rute masuknya.

Daftar ini berfokus pada pulau-pulau luar, jadi Jawa tidak termasuk. Kalau Anda memang berada di sana, panduan kami tentang sudut-sudut yang lebih sepi di sekitar Yogyakarta adalah titik awalnya.

Bagaimana kesepuluhnya bila dibandingkan

Tak satu pun dari sini bisa jadi tambahan cepat untuk seminggu di Bali. Masing-masing menuntut satu penerbangan dan umumnya satu kapal atau perjalanan panjang, dan sebagian besar layak diberi seminggu penuh. Tabel ini mengurutkannya berdasarkan tujuan Anda ke sana dan seberapa sulit dijangkau, agar Anda bisa memilih yang pas dengan perjalanan yang waktunya Anda punya.

Belitung

Kawasan
Lepas Sumatra
Untuk apa
Pantai batu granit, air jernih
Cara ke sana, umumnya
Mudah (penerbangan singkat dari Jakarta)

Labengki & Sombori

Kawasan
Sulawesi Tenggara
Untuk apa
Pulau karst, snorkeling, "mini Raja Ampat"
Cara ke sana, umumnya
Terbang ke Kendari, 40 menit ke Pelabuhan Tanasa, lalu sekitar 2,5 jam dengan perahu kayu

Kepulauan Banggai

Kawasan
Sulawesi Tengah
Untuk apa
Ikan endemik, Danau Paisupok, kelengangan
Cara ke sana, umumnya
Penerbangan Makassar ke Luwuk sekitar 75 menit, lalu 2 hingga 4 jam dengan feri umum

Kepulauan Togean

Kawasan
Teluk Tomini
Untuk apa
Danau ubur-ubur, ritme pulau yang lambat
Cara ke sana, umumnya
Sulit (penerbangan + darat + feri)

Sumba

Kawasan
Nusa Tenggara Timur
Untuk apa
Bukit sabana, pantai sepi, budaya
Cara ke sana, umumnya
Sedang (penerbangan lalu mobil)

Pulau Moyo

Kawasan
Lepas Sumbawa
Untuk apa
Air terjun, cagar alam, pulau nyaris pribadi
Cara ke sana, umumnya
Sedang (kapal dari Sumbawa)

Pesisir Sumbawa

Kawasan
Nusa Tenggara Barat
Untuk apa
Selancar sepi, Gunung Tambora
Cara ke sana, umumnya
Mudah sampai sedang (lewat darat dari Lombok)

Wae Rebo

Kawasan
Flores
Untuk apa
Desa rumah kerucut di atas awan
Cara ke sana, umumnya
Perjalanan darat, lalu trekking 2 hingga 3 jam

Kelimutu & jalan Flores

Kawasan
Flores
Untuk apa
Danau kawah tiga warna, perjalanan darat
Cara ke sana, umumnya
Sedang (lewat darat dari Labuan Bajo)

Dataran tinggi Sulawesi

Kawasan
Sulawesi Selatan dan Tengah
Untuk apa
Budaya Toraja, megalit, pegunungan
Cara ke sana, umumnya
Sulit (lewat darat dari pesisir)
Sepuluh hidden gem, diurutkan berdasarkan tujuan Anda ke sana dan seberapa sulit dijangkau.

Kapan ke sana, dan cara mewujudkannya

Untuk hampir setiap tempat di daftar ini, musim kemarau, sekitar April hingga Oktober, adalah jendela yang tepat: laut lebih tenang untuk rute kapal, air lebih jernih untuk terumbu, dan jalan yang bisa dilalui untuk perjalanan darat. Musim hujan tidak selalu terlarang di mana-mana, tetapi ia membuat etape kapal terpencil kasar dan jalan pegunungan lebih lambat, jadi mengatur waktunya dengan cermat itu sepadan.

Tantangan sesungguhnya dari semua ini bukan bahaya atau biaya, melainkan logistik: penerbangan yang harus pas dengan kapal tanpa tiket daring, pemandu lokal yang membuat perbedaan di tempat seperti Sumba dan Wae Rebo, serta keputusan cuaca di penyeberangan terpencil. Rangkaian itulah yang kami tangani. Kalau salah satu tempat ini memikat Anda, Anda bisa merencanakan perjalanan bersama kami, dan kami menyusun rutenya, atau telusuri trip grup kecil dan privat kami untuk melihat yang sudah berjalan. Untuk langkah pertama yang lebih halus melampaui Bali, mulailah dengan Indonesia di luar Bali.

Foto sampul: Tanjung Tinggi, Belitung, oleh Raflinoer32 via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Asik Travel Editorial

Ditulis oleh

Asik Travel Editorial

Editor perjalanan lokal

Kami menulis dari pulau-pulau yang kami jual, dengan catatan langsung dari pemandu dan operator kami.

Pertanyaan yang sering diajukan

Tempat mana di Indonesia yang paling diremehkan?

Labengki dan Sombori di Sulawesi Tenggara adalah kandidat kuat: labirin pulau karst dan laguna toska yang diam-diam disebut mini Raja Ampat oleh pelancong yang sudah melihat keduanya, dengan biaya sepersekian dan nyaris tanpa pengunjung. Sumba, Kepulauan Banggai, dan Belitung menyusul ketat. Semuanya menuntut satu penerbangan dan umumnya satu kapal, dan justru itulah alasan mereka tetap sesunyi ini.

Ke mana di Indonesia untuk menghindari keramaian?

Ke timur dan menjauh dari pulau-pulau utama. Kepulauan Togean dan Banggai di Sulawesi, Sumba di selatan Flores, Moyo di lepas Sumbawa, dan Belitung di lepas Sumatra hanya kedatangan sebagian kecil pengunjung Bali. Harganya adalah usaha: sebagian besar butuh penerbangan domestik plus kapal atau perjalanan panjang, dan makin sulit dijangkau, makin lengang di sana.

Apa benar Labengki mirip Raja Ampat?

Ia berbagi gambaran yang sama: pulau karst terjal menjulang dari air toska yang jernih, laguna tersembunyi, dan terumbu sehat yang bisa disnorkel langsung dari perahu. Ukurannya lebih kecil dan keanekaragamannya lebih rendah dari Raja Ampat, tetapi jauh lebih murah dan jauh lebih mudah dijangkau, dari Kendari di Sulawesi Tenggara, dan masih benar-benar di luar jalur wisata. Bagi banyak pelancong, ia adalah perjalanan dengan nilai lebih baik.

Bagaimana cara menuju tempat-tempat terpencil ini di Indonesia?

Nyaris selalu lewat penerbangan domestik ke hub regional, lalu kapal atau perjalanan darat panjang. Belitung adalah penerbangan singkat dari Jakarta; Kepulauan Banggai dan Togean butuh penerbangan plus darat plus feri; Sumba dan Moyo butuh penerbangan lalu kapal atau mobil. Koneksinya jarang menjual tiket daring dan sering bergantung cuaca, itulah sebabnya hari cadangan atau seseorang yang mengatur sambungannya itu penting.

Kapan waktu terbaik mengunjungi bagian-bagian terpencil Indonesia?

Musim kemarau, sekitar April hingga Oktober, untuk hampir semuanya. Ia membawa laut lebih tenang untuk rute kapal, air lebih jernih untuk snorkeling dan menyelam, serta jalan yang bisa dilalui untuk perjalanan darat di Flores dan Sulawesi. Musim hujan (November hingga Maret) membuat penyeberangan terpencil kasar dan bisa membatalkannya, jadi ada baiknya menaruh perjalanan ini di bulan-bulan kering.

Apakah hidden gem ini aman dan mudah dijelajahi sendiri?

Aman, dan orang-orang di kawasan ini terkenal ramah, tetapi tidak selalu mudah dijelajahi sendiri: transportasi terbatas, tanpa pemesanan daring, ATM langka atau tak ada, dan kendala bahasa di luar jalur wisata. Pelancong yang percaya diri dan luwes bisa menikmatinya dengan sedikit waktu cadangan. Untuk tempat seperti Sumba, Wae Rebo, dan Kepulauan Banggai, pemandu lokal atau perjalanan terencana menghilangkan sebagian besar hambatan dan membuka pintu yang tak akan Anda temukan sendiri.